Eksistensi

eksistensi, apa sih eksistensi itu? perlu ga sih?

Eksistensi bisa kita kenal juga dengan satu kata yaitu keberadaan. dimana keberadaan yang di maksud adalah adanya pengaruh atas ada atau tidak adanya kita. eksistensi ini perlu “diberikan” orang lain kepada kita, karena dengan adanya respon dari orang di sekeliling kita ini membuktikan bahwa keberadaan (atau sesuai dengan judul : eksistensi) kita diakui. Tentu akan terasa sangat tidak nyaman ketika kita ada namun tidak satupun orang menganggap kita ada, oleh karena itu pembuktian akan keberadaan kita dapat dinilai dari berapa orang yang menanyakan kita atau setidaknya merasa sangat membutuhkan kita jika kita tidak ada.

Masalah keperluan akan nilai eksistensi ini sangat penting, karena ini merupakan pembuktian akan hasil kerja kita (performa) kita di dalam suatu lingkungan. Perkuliahan misalnya, dosen akan lebih mengenal dan mengetahui keberadaan kita setelah dosen tahu performa kita baik (dengan nilai yang bagus, aktif, dan komunikatif) dan cenderung sedikit memperhatikan orang-orang yang pasif.

Dalam suatu keorganisasian eksistensi hanya perlu dilakukan dengan sebuah apresiasi terhadap kerja seseorang. apresiasi yang sangat sederhana, yaitu ucapan terima kasih. Hanya itu, hanya sebuah ucapan terima kasih yang mampu membuat seseorang yang merasakan keberadaannya, merasakan eksistensinya. Namun kadang, ketika semua sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing kita lupa akan masalah kecil ini. ucapan terima kasih. 

Tapi sesungguhnya hanya Allah yang mampu menilai semua hati manusia. dan Pasti Dia akan membalas semua kebaikan yang telah dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. amin

-Nadia Juli Indrani-

terima kasih untuk semua..

maaf belum bisa mengembalikan kebaikan yang kalian berikan >_<

About these ads

~ by nadzzsukakamu on July 29, 2010.

14 Responses to “Eksistensi”

  1. subhanallah…. bagus sekali tulisannya….. ikut ngopi yah… trimakasih…

  2. mangga :)

  3. Thanks nadia..it’s so help me…ikut copy-paste deh…ok bgt!

  4. Sedang merindukan eksistensialisme dan iseng nyari di google, dan ketemulah blog ini. Maaf sebelumnya saya sangat menghargai tulisan anda ini, tetapi menurut saya tulisan anda lebih tepat diberi judul penghargaan atau pengakuan. “eksistensi ini perlu “diberikan” orang lain kepada kita” kutipan kalimat tersebut menunjukkan bahwa posisi manusia sebagai objek yang diberikan label eksistensi. Manusia adalah subjek bukan objek atau benda. Oke lebih mudahnya saya akan berikan contoh. “A adalah (maaf) adalah seorang pelacur top, banyak laki hidung belang yang memakai jasanya, dari eksekutif muda sampai pejabat, A menjadi sangat terkenal, dan lebih dari sekedar ucapan terimakasih yang ia dapat, handphone, gadget terbaru sampai perhiasan mahal bisa ia dapatkan”. Nah dari tulisan atau pemahaman anda salahkah kalau saya bilang A itu eksis bagi para pelanggannya?

    Memang benar kurangnya pengakuan dan penghargaan dari orang lain akan memberikan rasa tidak nyaman, tapi apakah eksistensi diukur dari banyaknya orang yang memperhatikan kita? Keberadaan tidak bisa diukur, keberadaan dideskripsikan. Untuk lebih memahami tentang eksistensi mari kita kembali ke kasus A.

    1. A berasal dari keluarga miskin, seorang yatim sejak masih balita, sejak kecil ia tidak diberikan pendidikan yang baik, tapi ia punya fisik yang rupawan, cantik, setiap orang yang melihatnya akan tergoda. Saat menginjak usia remaja ibunya meninggal, ia harus menghidupi adik2nya yang masih kecil, sedangkan keluarga terdekat juga sudah tidak ada, A harus menafkahi adik2nya seorang diri.

    2. Suatu ketika datang seorang pria menawarkannya pekerjaan, bayarannya cukup menggiurkan, pekerjaannya? kita sudah tau. Demi adik2nya akhirnya ia mau menerima pekerjaan tersebut, walaupun tahu itu bukan pekerjaan impian, dan mungkin sebenarnya ia bisa mencari pekerjaan yang lebih layak.

    Dari dua poin di atas mari kita analisis bersama. Poin pertama adalah eksistensi atau keberadaan, adalah kehidupan yang dijalani A, adalah “the actual life of the individual”. Eksistensi mendahului esensi, poin kedua adalah esensi. Pilihannya untuk menjadi pelacur adalah esensinya, sebagian besar orang mungkin tidak setuju dengan pilihannya, tapi ia yang ia tahun inilah jalannya, ia memilih pekerjaan ini secara sadar, inilah kesadaran, dan kesadaran bersifat subjektif. Kesadaran yang subjektif menghadirkan kebebasan, sebenarnya A bisa memilih pekerjaan lain, tapi kebebasan adalah beban manusia dan selalu diuji, pekerjaan yang menggiurkan sebagai pelacur adalah godaan terhadap kebebasan.

    Nah apa yang saya tuliskan ini mungkin anda pernah dengar adalah eksistensialisme. Eksistensi tidak bisa didefinisikan sama dengan pengaruh ada atau tidaknya kita, kata kuncinya sudah anda sebut “keberadaan”. Jika tinggal anda satu2nya manusia yang ada di dunia ini, apakah anda akan menyebut diri anda tidak ada? Anda tetap eksis yang tidak ada adalah keberadaan manusia selain anda.

    (for reference: Being and Nothingness, J.P. Sartre)
    Robby Mustaqim
    Seorang eksistensialis

  5. Terima kasih untuk masukannya :)
    Eksistensi itu memang merupakan suatu penilaian dari pihak lain kalo menurut saya. Katakan lah saya adalah satu2nya manusia di bumi ini maka saya eksis (ada) tetapi tidak bernilai karena tidak ada pihak lain yang menilai keberadaan saya (anggap lah kita tidak membicarakan tentang. Sang Pencipta)..maka menurut saya, saya bisa dianggap “tidak ada”…

    Point nya adalah eksistensi merupakan suatu keberadaan yang -selain diakui oleh diri sendiri- diakui juga oleh pihak lain, tidak perlu banyak namun ada..

    Tapi tentu saja dengan minim nya pengetahuan saya dan sedikitnya referensi yang saya baca menyebabkan kekurangan yang justru mendasar..terima kasih..

  6. Hehehe okelah sama2 belajar kok… Jadi kalo poinnya balik lagi ke pengakuan dan penghargaan maka silahkan lihat term lain yang lebih tepat. Namanya “Social Recognition”, masuk ke ranah sosiologi.

    Anda juga sudah menjawab sebenarnya “Dianggap tidak ada” berarti anda sudah mengingkari keberadaan anda, padahal masih ada Tuhan. Bukan juga pengakuan diri sendiri, kalo itu lebih tepat refer ke topik “self esteem”.

    Balik Lagi ke contoh kasus A yang seorang pelacur, sebagian besar masyarakat pasti tidak akan mengakui eksistensi A karena tidak sesuai dengan norma yang berlaku, baik kesusilaan ataupun agama. Tidak akan mengakui? lantas tau dari mana kalo A itu tidak sesuai norma? Pengakuan selalu didasari penilaian, penilaian itu adalah kita atau orang lain membandingkan “keberadaaan” sesorang dengan norma atau nilai.

    Kalo emang eksis adalah pengkuan maka kita eksis beribadah karena pengakuan. Emangnya kita ibadah perlu pengakuan dan penghargaan dulu? Bukankah ibadah karena kita menyadari sebagai manusia kita adalah hamba dan membutuhkan petunjuk dan pertolongan dari Tuhannya? Jangan salah loh, ibadah juga adalah bentuk eksistensi manusia.

    Mohon maaf juga nih jadi sok tau ato menggurui, cuma terus terang saya agak kecewa dengan budaya pop yang mempopulerkan istilah eksis, namun telah memberikan “fallacy” tentang memahami eksistensi. Contoh: lagi ngetrennya social networking nih dari twit, FB, ampe google+,

    A: Oy B, update status terus kayanya…
    B: Iya dong… eksis gitu loh!

    Eksis, dalam budaya pop yang berkembang sekarang cuma jadi kata-kata keren, dan simbol pergaulan.

    Ini nih yang namanya eksistensi dalam kehidupan manusia: “saya sadar tentang diri saya, saya tahu potensi diri saya, saya paham tentang kehidupan yang saya jalani. Kemudian saya dihadapkan dalam pilihan-pilihan hidup, dan saya akan mengambil keputusan bebas, keputusan yang benar-benar sesuai dengan eksistensi saya”.

    Mudah2an anda menyebarkan juga tulisan saya ini kepada teman2 anda dan teman2 yang lain juga diberikan pemahaman.

  7. sip lah..sepakat dengan pergeseran kata eksistensi yang terjadi sekarang..hehehe..

    terima kasih ^^
    sepertinya mengasikan sharing2 dengan anda :)

    koreksi saya lagi yaaa…. :)

  8. jadi nyadar nich diriku, setelah baca tulisan ini, benar-benar memuaskan dan membuat nyaman.

  9. Sedang mencari pengertian eksistensi untuk terori skripsi kira2 di buku apa dan karangan siapa yang ada pengertian eksistensi menurut para ahli ya ? tks utk bantuannya.:)

  10. Being and Nothingness, J.P. Sartre.
    Seperti kata Robby yang komen di atas..ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

  11. finally! haha izin copy ya^^

  12. Reblogged this on riafirdausyi.

  13. kalo mau tau eksistensialisme yang lebih detail tapi versi indonesia, saya rekomendasikan bukunya Fuad Hassan “Berkenalan dengan Eksistensialisme” di dalam buku tersebut beliau merangkum pengertian eksistensialisme dari berbagai filsuf.. :)

  14. sedikit tapi menggigit,,, two thumb mba….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: