Belajar dan Beriman -atau bertaqwa?-

Tulisan ini dibuat ketika muncul pertanyaan, “kenapa ya kalo lagi musim ujian kondisi ruhiyah menurun?”

Yupss itu kondisi yang paling sering terjadi diantara aktivis-aktivis, sebenarnya bukan aktivis keagamaan saja yang merasa seperti ini, teman-teman yang lain pun merasa seperti ini, saat ujian sudah menerjang sholat rela di tunda, tidak sempat Qiyamul lail karena tertidur, Tilawah menjadi terasa berat akibat banyak bab yang belum dibaca, dan banyak kasus-kasus lain yang sejenis. Jika kondisi kalian seperti ini sebenanya apa yang salah sih?waktu ujian (lho?)??tuntutan amalan yaumiyah?atau sebenarnya kita yang tidak bisa membagi waktu? Tidak ada yang salah dengan semua jawaban di atas karena setiap orang memiliki kondisi masing-masing yang menyebabkan belajarnya jadi H-1 (bahkan H-x jam) dan kondisi ini yang tidak semua orang bisa samaratakan, Setelah nilai UTS keluar baru kita akan merasa menyesal kenapa belajar tidak maksimal, berdoa tidak maksimal, nilai jelek amal menurun..TIDAKK. .Itu mungkin menjadi kondisi yang tidak kita inginkan bukan? jadi tulisan ini dibuat untuk memberikan tips agar semuanya (mudah- mudahan) dapat optimal mulai dari waktu yang sempit, otak yang penuh dengan amanah, tapi amalan yaumiyah yang bisa terus terjaga..so let’s see…

1. Belajar, mau tidak mau belajar itu penting, Bagaimana kita bisa mengisi ujian jika bahan yang diujikan saja tidak diketahui. Namun bagaimana jika waktu belajar yang kita miliki itu sempit? Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu dijawab, karena waktu untuk MENGULANG pelajaran itu sebentar tidak memakan waktu yang lama. Akan beda kasusnya jika kita BARU akan membaca semua bab-bab itu dalam waktu satu hari, oleh karena itu OPTIMALISASI di kelas saat dosen mengajar akan membuat kita mengerti akan apa yang akan diujikan sehingga waktu belajar kita yang memang sempit akan menjadi optimal karena sifatnya hanya mengulang (merefresh ingatan) bukan memasukkan bahan baru dalam waktu semalam. Jika kamu termasuk orang yang gampang stress dan tidak bisa belajar sendiri maka minta bantuanlah kepada temanmu yang lebih bisa, karena itu pun dianjurkan di dalam Al-Quran :

“Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)

Setelah kita belajar kita tetap harus berdoa agar semua usaha kita berbuahkan hasil yang paling baik. Ingat senjata seorang muslim adalah doa dan Allah akan meneguhkan ketetapanNya melalui doa yang kita panjatkan.

2. Istirahat siang, istirahat yang dimaksud adalah jangan terlalu memforsir otak dan otot (walah!) dalam waktu yang tiba-tiba karena yang ada adalah kita akan merasa mengantuk dan otak tidak fresh saat mengerjakan ujian. Saya beri satu contoh kasus: si Fulan seorang aktivis yang amanahnya dimana-mana dan besok dia harus ujian Struktur dan Perkembangan Tumbuhan yang merupakan hapalan tingkat parah tetapi yang lebih parah adalah selama perkuliahan dia tidak memperhatikan sedangkan dia harus menghafal 8 bab dan besok ujian jam 7 pagi (gubrak! Mahasiswa banget dah) akhirnya si fulan ini setelah dari pagi sampai magrib mengerjakan tugas, rapat, dan aktivitas perkuliahan lain malam hari dia baru mulai belajar, niatnya begadang (contoh yang kurang baik) hingga adzan subuh berkumandang, Paginya di ruang ujian fulan datang dengan senyum lemas yakin bahwa dia sudah belajar, baru 20 menit waktu berlalu fulan pun tertidur sampai waktu mengerjakan ujian hampir habis fulan baru terbangun, TIDAKKK! Fulan pun pasrah. Kita tentu tidak mau mengalami apa yang fulan alami tentu saja (atau ada yang sudah mengalami?) inilah pentingnya ISTIRAHAT, karena tubuh dan otak kita memiliki hak untuk itu, jangan paksa untuk terus “bekerja” karena seperti mesin otak dan ototpun bisa “panas” akibat pemakaian yang seenaknya ini. Istirahat yang dianjurkan adalah di siang hari ketika kita penat pada apa-apa yang kita lakukan kita diwajibkan untuk beristirahat, sesuai dengan Hadist berikut:

“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)

Setelah kita beristirahat (tidak harus tidur) kita akan menjadi fresh kembali untuk melakukan aktivitas hingga pada malam hari bisa belajar dengan optimal. Di waktu istirahat itu bisa kita isi dengan tilawah Al-Quran, berdzikir, tidak lama hanya sekitar 1 jam kita bermesraan dengan sang Pencipta maka 23 jam lainnya Dia berikan untuk kita.

3. Jangan begadang. Tidur merupakan kebutuhan yang pokok karena dengan tidur sel imunitas tubuh kita akan di produksi untuk dapat mengatasi kuman yang masuk kedalam tubuh keesokan harinya. Jika kita mengubah pola hidup kita dengan sering begadang maka tubuhpun akan mengalami penyesuaian ke arah yang kurang baik yaitu produksi sel-sel imunitas akan dilakukan pada siang hari dimana kuman sudah banyak masuk tetapi tubuh kita belum siap untuk mengatasinya. Hal ini yang menyebabkan kita jadi gampang sakit. Dengan tidur yang cukup kita bisa bangun lebih pagi untuk dapat melakukan Qiyamul lail, sambil terus berdoa agar Rabb memberikan hasil yang paling baik. Amin.

Setelah Qiyamul lail kita dapat mengulang bahan-bahan yang akan diujikan. Seperti yang tertera dalam Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil `Alim wal Muta’allim, karya Al-Qadhi Ibrahim bin Abil Fadhl ibnu Jamaah Al-Kinani rahimahullahu, hal. 72-73, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)

Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.
-Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
-Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi.
-Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang.
-Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.
Al-Khathib rahimahullahu berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”

Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”

Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”
Kondisi ruhiyah yang harus tetap dijaga adalah shalat tepat waktu, berjamaah, dan melakukan shalat sunnah, Itu hanya membutuhkan waktu 10 menit namun akan membawa ketenangan dalam menjalani aktivitas. Ujian lancar ruhiyah terjaga sehingga mampu menjadi muslim yang Rabbani. Amin.

Terakhir saya ingin mengucapkan semoga apa-apa yang saya tulis dapat saya lakukan. Karena pada saat sekarang penulis pun sedang berusaha tidak menjadi seorang deadliners. Mari saling mendoakan.

Dikutib dari seorang teman :” Ya Allah ampunilah apa-apa yang telah kami lakukan, kami lebih tergoda pada kesenangan-kesenang an duniawi, hanya 30 menit kami mengingatMu dan sisanya kami gunakan untuk menyembah berhala-berhala dunia. Ampunilah kami ya Allah karena Engkau Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin”

-Nadia Juli Indrani-
10607041

Beberapa kalimat diambil dari : http://qurandansunn ah.wordpress. com/2009/ 12/20/

~ by nadzzsukakamu on March 23, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: