Preparasi dan Kultur dari Sel Hewan

Ada beberapa hal yang harus disediakan ketika kita ingin mengkultur sel hewan. Hal-hal tersebut dapat dilihat dibawah ini :

I.1.1 Sonikasi

Pengertian

Sonikasi adalah suatu cara penerapan energi ultrasuara untuk memisahkan partikel-partikel yang menempel dalam sampel yang akan disonikasi. Ultrasuara yang digunakan dalam sonikasi merupakan tekanan suara siklik dengan frekuensi yang lebih besar dari pada batas teratas pendengaran manusia. Sonikasi dapat digunakan untuk mempercepat pemisahan partikel dalam sampel, dengan cara memecah interaksi antarmolekul. Sonikasi juga dapat berfungsi untuk menghilangkan gas-gas terlarut dari cairan sampel dengan cara mensonikasi cairan tersebut dalam keadaan vakum. Sonikasi dapat diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya dalam bidang biologi, sonikasi digunakan untuk mengganggu dan menginaktifkan materi-materi biologi. Selain itu, dapat diaplikasikan dalam bidang nanoteknologi, yang bertujuan untuk menyebarkan nanopartikel dalam cairan. Sonikasi juga dapat diartikan sebagai suatu mekanisme yang digunakan dalam pembersihan ultrasonik, untuk menghilangkan partikel-partikel pengotor (Indra, 2008).

Tujuan Sonikasi

Sonikasi bertujuan untuk membersihkan semua peralatan yang akan digunakan dalam percobaan dari semua partikel-partikel kontaminan.

Sonikator

Sonikator merupakan generator dengan frekuensi suara tinggi yang digunakan untuk merusak sel atau menggeser asam nukleat. Bahaya penggunaan sonikator mencakup suara dengan frekuensi yang terlalu tinggi. Sonikator menghasilkan gelombang suara dalam kisaran 20.000 Hz, yang berada di luar kisaran normal pendengaran manusia. Suara yang terdengar saat dihasilkan oleh kavitasi cairan dalam wadah sampel atau getaran di antara peralatan yang longgar.

Prinsip kerja

Sonikasi merupakan suatu proses pengubahan sinyal listrik menjadi getaran mekanis yang dapat diarahkan menuju suatu zat yang dilakukan untuk memecahkan ikatan antar molekul atau untuk merusak sel. Getaran yang dihasilkan dapat memecah bagian molekul dan merusak sel. Bagian utama dari sonikator adalah generator listrik ultrasonik. Alat ini menghasilkan sinyal (sekitar 20 KHz) yang menghidupkan transduktor. Transduktor kemudian mengkonversi sinyal elektrik degan menggunakan kristal piezoelectric, yaitu kristal yang dapat merespon listrik dengan menghasilkan getaran mekanis. Getaran tesebut dijaga oleh sonikator hingga melewati probe. Probe sonikator berperan dalam menyampaikan getaran pada cairan yang disonikasi. Pergerakan probe yang  terjadi dengan cepat menghasilkan efek kavitasi yang terjadi ketika terbentuk gelembung-gelembung mikroskopis dalam larutan akibat adanya getaran. Pembentukan dan penghancuran gelembung tersebut menghasilkan gelombang getaran berenergi tinggi yang dapat merusak sel (Lacoma, 2009).

I.1.2 Sterilisasi

Secara umum

Peralatan dan larutan yang digunakan dalam kultur sel harus disterilisasi dahulu. Cara sterilisasi dipilih berdasarkan kestabilan peralatan dan bahan tehadap suhu yang tinggi. Sterilisasi peralatan dan bahan yang memiliki ketahanan tinggi terhadap panas seperti logam, gelas, dan plastik tahan panas) dapat sterilisasi dengan dry heat (Freshney, 2005).

Sterilisasi merupakan suatu proses membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.

1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.

2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran. Pemanasan, yang terdiri dari pemijaran (dengan api langsung), yaitu membakar alat pada api secara langsung, panas kering, yaitu sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering digunakan untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Uap air panas, yaitu konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggunakan metode ini agar tidak terjadi dehidrasi. Dan uap air panas bertekanan yang disebut dengan autoklaf. Penyinaran dengan UV, dengan sinar UV dapat digunakan untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV

3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol. (Indra, 2008).

Terdapat 4 tahap dalam sterilisasi, yaitu perendaman, merupakan langkah di mana semua alat yang akan disterilisasi direndam dalam larutan deterjen. Perendaman tidak boleh dilakukan terlalu lama untuk mencegah terjadinya korosi dari alat non stainless. Pembersihan merupakan tahap dasar untuk menghilangkan kontaminasi. Semua pengotor dan cairan harus dibuang dulu sebelum dimasukkan ke dalam alat pembersih. Salah satu cara pembersihan adalah dengan pembersihan ultrasonik. Pengendalian korosi dan lubrikasi. Peralatan yang telah dibersihkan harus selalu dikeringkan untuk mengurangi kemungkinan korosi. Pengemasan dapat dilakukan sebelum proses sterilisasi selanjutnya, agar peralatan terlindungi dari kontaminasi setelah disterilisasi, dan pemantauan sterilisasi dapat dilakukan menggunakan indikator kimia seperti perubahan warna, tetapi lebih efektif menggunakan indikator biologi seperti pengujian terhadap kontaminan seperti spora, virus, bakteri (Gupta dan Verma, 2009).

Autoklaf

Autoklaf adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210C. Autoklaf dapat digunakan untuk mensterilisasi cairan yang stabil terhadap panas seperti air, larutan garam, dan beberapa jenis media. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 20 menit. Penggunaan suhu 1210C atau 249,8 0F yaitu karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdidih pada suhu 1210C.

Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai., maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi. Bagian-bagian yang terdapat dalam autoklaf, yaitu tombol pengatur waktu mundur (timer), katup pengeluaran uap, pengukur tekanan, kelep pengaman, tombol on-off, thermometer, lempeng sumber panas, aquades (dH2O), sekrup pengaman, dan batas penambahan air (Anonim 1, 2009).

Cara penggunaan autoklaf, yaitu dengan mengisi air dalam autoklaf sampai batas yang ditentukan, Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat. Masukkan peralatan dan bahan. Autoklaf ditutup lalu dikencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoklaf, dan klep pengaman tidak dikencangkan terlebih dahulu. Autoklaf Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC. Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan isi dari keluarkan isi autoklaf. Beberapa media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoklaf adalah bahan tidak tahan panas seperti serum, vitamin, antibiotik, dan enzim, pelarut organik, seperti fenol, bahan yang mengandung detergen, seperti SDS (Anonim 1, 2009).

Filtrasi

Filtrasi digunakan untuk memisahkan campuran heterogen zat padat yang tidak larut dalam cairan. Penyaringan menggunakan kertas saring, hasil saringan disebut filtrat. Ukuran pori membran yang biasa digunakan adalah 0,22 µm. Ukuran pori tersebut digunakan karena baik digunakan untuk menghilangkan bakteri terkecil dari larutan. Untuk menghilangkan virus sebaiknya digunakan membran dengan ukuran pori 20 nm (Gupta dan Verma, 2009). Mekanisme yang dilalui pada filtrasi, yaitu air mengalir melalui pori penyaring, partikel-partikel tertahan di media penyaring, terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis.

Penggunaan Sterilisasi dengan Autoklaf dan Filtrasi

Peralatan yang digunakan dalam kultur sel digunakan autoklaf untuk sterilisasi, karena peralatan tersebut tahan jika terkena suhu yang sangat panas. Tetapi untuk medium dan larutan lain yang harus steril, sterilisasi dilakukan dengan menggunakan filtrasi membran. Medium mengandung bahan yang dapat rusak jika berada dalam suhu yang sangat tinggi.

Tujuan Sterilisasi Alat dan Bahan

Sterilisasi yang dilakukan dalam kultur sel berfungsi untuk menghilangkan kontaminan dalam peralatan dan bahan yang akan digunakan sehingga alat dan bahan steril. Semua peralatan dan bahan yang digunakan harus steril dan terbebas dari bakteri.

I.1.3 PBS

Komponen

PBS merupakan larutan garam seimbang yang terdiri dari 1.5 mM KH2PO4.H2O, 8.1 mM Na2 HPO4.7 H2O, 140 mM NaCl, 2.7 mM KCl.

Fungsi Larutan PBS

PBS merupakan sebuah larutan  penyangga yang biasa digunakan dalam penelitian biologi. Buffer membantu untuk mempertahankan konstan pH. Osmolaritas dan konsentrasi ion solusi yang sesuai dengan tubuh manusia (isotonik) (Anonim 2, 2009). PBS sering digunakan dalam percobaan biologi sel untuk mempertahankan osmolaritas sel. Garam mengandung ion, yang menyeimbangkan jumlah ion garam di dalam sel. Jika sel yang tenggelam ke dalam solusi yang memiliki terlalu banyak garam ion, air akan bocor keluar dari sel, menyebabkan sel menyusut. Sebaliknya, jika sel terbenam ke dalam solusi yang memiliki ion terlalu sedikit garam, air akan masuk ke dalam sel, menyebabkan sel pecah. Oleh karena itu, sangat penting saat melakukan percobaan biologi sel untuk menjaga sel-sel di osmolaritas tertentu. PBS adalah pada osmolaritas yang benar untuk menjaga sel-sel dalam negara isotonik. PBS sering digunakan sebagai larutan penyangga dalam berbagai eksperimen untuk mempertahankan pH protein. Protein memerlukan kisaran pH tertentu untuk menjaga netralitas pada asam amino tertentu, untuk mempertahankan struktur protein. Jika tidak, struktur protein akan terdenaturasi (Anonim 2, 2009).

Cara Sterilisasi PBS

PBS yang mengandung glukosa tidak dapat disterilkan dengan cara bersamaan karena glukosa dapat menjadi caramel pada waktu diautoklaf. Larutan glukosa disterilisasi secara terpisah yang akan ditambahkan pada PBS steril setelah disterilisasi. Apabila glukosa sudah dicampurkan sebelum sterilisasi, maka sterilisasi harus dilakukan dengan cara filtrasi membran. PBS yang digunakan dalam kultur sel ini tidak mengandung gula atau bikarbonat, sehingga dapat disterilisasi dengan cara autoklaf. Cara yang dilakukan adalah dengan menempatkan larutan PBS ke dalam botol tahan panas, ditutup dan disegel, kemudian diautoklaf selama 20 menit dengan suhu 121°C dengan tekanan 100 kpa (Freshney, 2005).

Storage dan Stability

PBS dapat disimpan pada suhu kamar, tetapi dapat menjamin pendinginan untuk mencegah pertumbuhan bakteri jika solusi yang tidak steril dan disimpan untuk jangka waktu yang lama. Disimpan pada suhu ruang (15-30°C). Namun apabila penyimapanan menggunakan suhu 4°C, PBS yang digunakan menjadi lebih tahan lama (Freshney, 2005). Kondisi penyimpanan yang baik dan benar akan mempengaruhi kestabilan larutan PBS tersebut.

I.1.4 Medium Kultur

Medium kultur yang digunakan untuk kultur jaringan beragam. Terdapat medium kultur yang mengandung seluruh komponen secara lengkap dalam bentuk bubuk dan siap pakai. Macam medium diberi nama sesuai dengan pembuat medium dan larutan garam seimbang yang digunakan. Medium merupakan campuran nutrisi, serum, antibiotik, hormon, dan faktor tumbuh yang digunakan dalam kultur sel secara in vitro. Medium kultur sel sangat beragam dengan fungsi spesifik masing-masing. Beberapa contoh medium di antaranya Minimal Essential Medium (MEM), Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium (DMEM), Hams Nutrient Mitures F10 dan F12, Molecular Cellular Developmental Biology (MCDB), F12 CDME, dan Leibovitz L-15 (Marther dan Robert, 1998).

Beberapa medium yang digunakan dalam kultur sel di antaranya, yaitu medium yang bekerja sangat kuat (1x konsentrasi), dengan atau tanpa glutamin, medium yang memiliki konsentrasi 10x, biasanya tanpa NaHCO3 dan glutamin yang tersedia dalam konsentrasi terpisah, dan medium berupa serbuk tanpa atau dengan NaHCO3 dan glutamin, merupakan medium yang paling murah (Freshney, 2005).

Medium berperan sebagai mediator pertumbuhan bagi sel yang dikultur dan pemberian nutrisi bagi sel yang akan dikultur. Salah satu faktor yang penting dalam teknik kultur jaringan adalah medium. Teknik kultur jaringan akan berhasil bila pemilihan medium yang digunakan tepat karena dalam medium terdapat kebutuhan dari sel yang dikulturkan. Medium yang digunakan didasarkan pada sel yang akan digunakan dalam kultur sel tersebut  (Wetter and Constabel,1991).

Salah satu medium kultur yang biasa digunakan adalah DMEM. DMEM merupakan modifikasi dari Basal Medium Eagle (BME) yang berisi empat kali lipat lebih tinggi konsentrasi asam amino dan vitamin, serta tambahan komponen tambahan. DMEM asli formula berisi 1000 mg / L glukosa dan pertama kali dilaporkan untuk kultur sel embrio tikus (Anonim 3, 2009). DMEM yang digunakan dalam kultur sel kali ini adalah DMEM F-12, yang merupakan medium dengan nutrisi terkaya dibandingkan dengan medium lain yang ada.

I.1.5 Fungsi Larutan dalam Medium

–          NaHCO3

Merupakan senyawa komponen medium yang berperan dalam menjaga pH dan osmolalitas kultur sel (Marther dan Robert, 1998). Konsentrasi bikarbonat sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan dengan CO2 atmosfer. Beberapa medium mengandung konsentrasi bikarbonat yang tinggi dan meningkatkan CO2 di atmosfer, sedangkan medium lain memiliki konsentrasi bikarbonat yang rendah untuk digunakan dengan fase gas udara. Jika medium yang digunakan dirubah, maka akan mengubah konsentrasi bikarbonatnya, sehingga penting untuk memastikan bahwa osmolalitas medium tetap berada dalam kisaran yang ditentukan (Freshney, 2005).

–          Penicillin dan Streptomycin dalam Medium Kultur

Fungsi penicillin dan streptomycin dalam medium kultur adalah untuk membantu mencegah kontaminasi yang berupa bakteri. Penicillin menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis peptidoglikan. Streptomisin memiliki antibiotik aminoglikosida dan menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis protein.

–          FBS

Dalam mengkultur sel, diperlukan medium kultur yang biasanya dikombinasikan dengan Fetal Bovine Serum (FBS), yaitu suatu serum (darah tanpa sel dan faktor penggumpal/pembeku). FBS berisi berbagai substansi yang dibutuhkan sel yang dikultur untuk tumbuh dan hidup dengan baik. FBS merupakan serum yang digunakan secara luas dalam kultur sel, jaringan, ataupun organ secara invitro, karena dapat digunakan hampir di semua jenis sel serta karena mengandung banyak faktor pendukung pertumbuhan dan metabolisme embrionik (Jochems, 2009).

I.1.6 Cara Sterilisasi Filtrasi

Ukuran pori membran yang biasa digunakan adalah 0,22 µm. Ukuran pori tersebut digunakan karena baik digunakan untuk menghilangkan bakteri terkecil dari larutan. Untuk menghilangkan virus sebaiknya digunakan membran dengan ukuran pori 20 nm (Freshney, 2005).

I.1.8 Storage dan Stability

Medium yang baru saja disterilisasi melalui filtrasi membran diinkubasi pada suhu 37°C selama 1 minggu untuk mengetahui apakah terjadi kontaminasi. Kemudian medium disimpan pada suhu 4°C dan dijaga agar pH tidak berubah. Serum yang belum digunakan harus disimpan pada suhu rendah (dibekukan) secepat mungkin setelah dibuat. Serum sebaiknya digunakan dalam jangka waktu 6-12 bulan dari persiapan jika disimpan pada suhu -20°C, tetapi penyimpanan dapat lebih lama jika disimpan pada suhu -70°C (Freshney, 2005).

 

Reference

Abcam. 2007. T47D (Human ductal breast epithelial tumor cell line) Whole Cell Lysate (ab14899) datasheet.
Diakses dari : http://www. abcam.com/index.html?datasheet=14899 Diakses tanggal 3 Desember 2009.

Anwar, Yassier. 2008. Isolasi dan Karakterisasi Fragmen cDNA dari Gen Penyandi Metallothionein dari Kedelai Kultivar Slamet. Skripsi IPB : Bogor.

A.Toha, 2001. Isolasi RNA. Diakses dari : http://exploratorium.org/tahap_isolasi_DNA/htm. 16 November 2009.

Adnan, 2009. Mitokondria. Diakses dari : http://www.scribd.com/doc/20536961/MITOKONDRIA-REVISI-pdf-Adnan-UNM

Dinas Kesehatan. 2009. Vinblastin. Diakses dari : http://www.diskes.jabarprov.go.id/index.php?mod=pubInformasiObat&idMenuKiri=45&idSelected=1&idObat=203&page=9 Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Breslaur, K.J., Frank R., Blocker H., and Marky L.A. 1986. Predicting DNA duplex stability from the base sequence. Proc Natl Acad Sci, 83:3746-3750.

Freshney, Ian. 2005. Culture of Animal Cells: A Manual of Basics Technique, Fifth edition. New York: John Willey & Sons Inc.

Gupta, Mohit., dan Verma, Mohit. 2009. Sterilization and Disinfection. Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/7658723/Sterilization-and-Disinfection. Diakses tanggal: 26 November 2009.

Jochems, Carlo. 2009. Fetal Bovine Serum: Are Cell Cultures Cruelty Free?. Diakses dari: http://www.all-creatures.org/clct/ar-fetal.html. Diakses tanggal: 29 November 2009.

Jolla, La. 2009. Autoclave Overview. Diakses dari: http://blink2.ucsd.edu/safety/research-lab/biosafety/autoclave/indeks.html. Diakses tanggal: 29 November 2009

Indra. 2008. Sterilisasi. Diakses dari : http//www.ekmon-saurus/bab-3-Sterilisasi/.htm. Diakses pada tanggal 08 maret 2009.

Ikuri lab, 2002.  Cadherin. Diakses dari http://calcium.uhnres.utoronto.ca/cadherin/pub_pages/general/intro_cadherins.htm Diakses tanggal : 03 Desember 2009

Karp, Gerald. 2005.Cell and Molecular Biology Concept and Connection edisi 4. United State : John Wiley & Sons, Inc.

Lacoma, Tyler. 2009. How Does Sonication Work?. Diakses dari: http://www.ehow.com/how-does_5171302_sonication-work.html. Diakses tanggal: 29 November 2009.

Lichstein H. C., Soule M. H.
Studies of the Effect of Sodium Azide on Microbic Growth and Respiration: I. The Action of Sodium Azide on Microbic Growth.
Journal of Bacteriology diakses dari : http://servente.area.ge.cnr.it/sds/DbToC/include/file_fr.php?id=2565671&wh=nm Diakses tanggal 2 Desember 2009

Marther, Jennie P., dan Roberts, E. Penelope. 1998. Intoruction to Cell and Tissue Culture: Theory and Technique. New York: Plenum Press.

Mustahib, AR. 2007. Mitokondria. Diakses dari : http://biologi.blogsome.com/2007/06/17/mitokondria/ Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Ouellet, S., François V., Maryse L., Steeve L., Régen D., Sylvain L.G. 2006. Transcriptional regulation of the cyclin-dependent kinase inhibitor 1A (p21) gene by NFI in proliferating human cells. Université de Sherbrooke Sherbrooke, Québec, Canada

Reya, Tannishtha, Morrison, Sean J., Clarke, F., Weissman, Irving L. 2001. Stem Cells, Cancer, and Cancer Stem cells. Nature No. 414. Hal 105-111.

Anonim 1, 2009. Alat-alat Laboratorium Mikrobiologi. Diakses dari : http://rofix.wordpress.com. Diakses tanggal  01 Desember 2009.

Anonim 2, 2009. PBS. Diakses dari :  http://www.biologicalworld.com. Diakses tanggal 01 Desember 2009.

Anonim 3, 2009. Diakses dari : www.sigmaaldrich.com. Diakses tanggal 01 Desember 2009.

Anonim 4, 2009. Diakses dari :Cell Culture .http://en.wikipedia.org/wiki. Diakses tanggal 01 Desember 2009.

Anonim 5. 2006. Bioprocessing Channel. Genetic Engineering & Biotechnology News vol.26. no. 2. Diakses dari : http://www.genengnews.com/articles/chtitem.aspx?tid=1244&chid=3. Diakses tanggal 01 Desember 2009

Anonim 6, 2006. Diakses dari : http://molgen.uc.edu/node/109. Diakses tanggal 01 Desember 2009.

Anonim 7. 2009. P21 [online]. Diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/P21 Tanggal akses 30 November 2009

Anonim 8. 2009. Design PCR Primers [online]. Diakses dari http://molbiol-tool.ca/PCR.htm Tanggal akses 30 November 2009.

Anonim 9. 2008. Primer Design [online]. Diakses dari http://bioweb.uwlax.edu/GenWeb/Molecular/seq_anal/primer_design/primer_design.htm Tanggal akses 30 November 2009.

Anonim 10. 2009. PCR Primer Design Guidelines [online]. Diakses dari http://www.premierbiosoft.com tech_notes PCR_Primer_Design.html Tanggal akses 30 November 2009

Anonim 11, 2008. Mitokondria. Diakses dari : http://ilmupedia.com/akademik/23/610-mitokondria.html Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Anonim 12, 2009. Mitokondris. Diakses dari : http://biologi.blogsome.com/2007/06/17/mitokondria/ Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Anonim 13, 2009. Biologi Sel. Diakses dari : http://ini-ano.blogspot.com/2009/04/sel.html Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Anonim 14 2009. Siklus Krebs. Diakses dari : http://blacktuke.blogspot.com/2009/06/siklus-krebs-dan-transpor-elektron.html Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Anonim 15, 2009. Mitochondria. Diakses dari : http://www.ruf.rice.edu/~bioslabs/studies/mitochondria/oxphos.html Diakses tanggal : 01 Desember 2009

Anonim 16, 2009. DCIP. Diakses dari :  http://en.wikipedia.org/wiki/Dichlorophenolindophenol Diakses tanggal : 01 Desember 2009

-Bukan untuk di COPY, hanya untuk dibaca-

 

~ by nadzzsukakamu on October 20, 2010.

6 Responses to “Preparasi dan Kultur dari Sel Hewan”

  1. HORE!

  2. Nadzzz g ngapz!?

  3. teman-teman, kenapa pada di copy yah…padahal saya ingin kalian baca ini sebagai tambahan saja, bukan benar-benar di copy tanpa editan sama sekali..
    T.T

  4. hai
    mau tnya ne … kalo desain laboratoriun kultur jaringan hewan itu baiknya gmana ya?trus alat2nya apa aja?mhon bantuannya dikirim di email saya
    terima kasih

  5. haloo nadz.. bagus banget informasinyaa.. makasih yaa…🙂

  6. dimana referensi tentang sonikasinya min?? mau baca lengkapnya..nuhuun. makasi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: