Sekarang Hobi Membaca Sudah Basi

“Jadilah orang yang PRODUKTIF terhadap ilmu bukan orang yang KONSUMTIF” (Adriano Rusfi, Seorang Konsultan, Trainer, Psikolog, dan Pengarang buku).

Banyak orang yang mengatakan membaca adalah jendela dunia, dengan membaca kita dapat mengetahui apa-apa saja yang terjadi di luaran sana. Tanpa harus pergi ke Mesir kita dapat mengetahui betapa indah dan memukau bangunan Piramida yang sangat terkenal itu. Sungguh mengasikkan, membaca membuat kita merasa menjelajahi dunia dalam waktu yang singkat. Tetapi sampai kapan informasi yang kita terima akan kita simpan sendiri dalam otak kita?

Dalam banyak kasus, termasuk menulis, membaca merupakan suplemen yang baik yang dapat mengembangkan ilmu yang kita miliki. Namun sampai kapan membaca ini hanya sebatas hobi saja? Dalam QS : Al-Alaq : 4 Allah telah berfirman “(Dialah Allah) yang mengajar (manusia) dengan pena” betapa jelas firman Allah tersebut menyuruh manusia untuk produktif menulis. Terbukti dari kata “pena” yang digunakan dalam ayat tersebut bukan “kitab” atau yang sering diartikan sebagai buku, dari hal ini maka hukum dari menulis menjadi wajib. Bacalah, ambil ilmu sebanyak-banyaknya, lalu berhenti sejenak untuk memikirkannya dan tulislah itu menjadi sebuah tulisan yang mampu memberikan ilmu kepada orang lain.

Menulis bukanlah sebuah perkara yang susah maupun gampang. Menulis tidak sulit karena menulis merupakan sebuah proses menuangkan ide yang sudah terdapat dalam otak kita yang telah mengalami proses pemikiran sebelumnya. Hal yang membuat menulis menjadi sulit ada keinginan yang ada pada diri kita masing-masing (Tartono, 2005). Niat menulis yang datang dan pergi membuat kita menjadi tidak konsisten terhadap dunia tulis-menulis ini. Menurut Tartono, 2005 terdapat tiga hal yang dibutuhkan bagi seorang penulis : teknik penulisan, isi atau muatan, dan kontinuitas. Ketiga hal di atas menjadi penting untuk dipertimbangkan jika tulisan yang dibuat ingin “masuk” ke dalam media massa.

Menulis di media massa juga memerlukan teknik yang dapat dipelajari dan dilatih karena menulis bukanlah suatu bakat yang tidak dimiliki oleh semua orang. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan jika anda ingin menjadi seorang penulis media massa yang paling dasar adalah teknik penulisan. Teknik penulisan terdiri dari beberapa hal, mulai dari karakter media yang dijadikan target, sasaran pembaca, hingga hal-hal teknis seperti bahasa yang digunakan sampai tata cara penulisan (Hadinur, 2006). Selain itu, seperti yang telah dituliskan diatas isi atau muatan dari tulisan yang ingin di publish pun harus diperhatikan agar tulisan menjadi “cemilan” yang enak dikonsumsi. Jika tulisan yang sudah dibuat belum dimuat maka jangan berputus asa, kekontinuan dalam menulis melatih kita dalam menggunakan bahasa dan mempermainkan kata sehingga tulisan kita menjadi “enak” untuk disajikan.

Data statistik menunjukkan dari 476 penerbit buku di Indonesia saat ini, buku yang terbit setiap tahun hanya 12.000 judul buku. Jika setiap judul dicetak 100 eksemplar maka setiap tahun hanya ada 12 juta buku baru yang beredar di Indonesia. Ini sangat tidak sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka lebih dari 220 juta jiwa (Purnama, 2010). Minat baca yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia pada tahun 2006 adalah 23,5% atau setara dengan 51 juta penduduk Indonesia gemar membaca (Badan Pusat Statistik, Indonesia). Jika kedua data dibandingkan maka dapat terlihat bahwa orang yang gemar membaca di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan orang yang gemar menulis. Mari kita melihat data ini dengan jeli, dari data yang dimiliki dapat dipastikan bahwa menjadi seorang penulis itu merupakan sesuatu yang memiliki prospek yang cukup besar di Indonesia. Jumlah penulis yang sedikit, baik penulis artikel, berita, feature, novel, cerpen, maupun buku ilmu pengetahuan lainnya, akan menyebabkan terbukanya peluang seseorang untuk masuk kedalam dunia tersebut.

Tidak bisa ditampik bahwa menulis itu harus memiliki dasar, sehingga menulis tanpa membaca terlebih dahulu akan menghasilkan tulisan yang dangkal. Membaca tentu saja tetap sangat penting, namun ada saatnya ketika kita sudah membaca banyak buku kita berhenti sejenak untuk mengolahnya dan menjadikannya sebuah tulisan yang baru yang kita kemas dengan cara yang lebih praktis, asik, dan menyenangkan bagi publik. Mengingat perkataan Bapak Adriano, sampai kapan kita akan menjadi orang yang konsumtif terhadap ilmu? Sudah saatnya kita lah yang menuliskan ilmu itu dan menjadi seseorang yang produktif terhadap ilmu. Jika anda masih bertanya, lantas bagaimana cara menulis di media massa? Maka sadari saja dahulu bahwa dasar menulis adalah menjadi penulis itu sendiri.

Nadia Juli Indrani

UTS Jurnalisme Saint dan Teknologi

*I do Love Writing🙂

~ by nadzzsukakamu on April 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: