Menjemur Pakaian

          Pagi hari. Hampir setiap pagi aku menjalani rutinitas ini, menjemur pakaian. Aku adalah seorang wanita pingitan yang berasal dari sebuah desa yang terletak di pinggiran kota. Orang tuaku merupakan tipikal orang tua yang kolot yang selalu beranggapan bahwa wanita itu harus dirumah, mengerjakan pekerjaan rumah, dan apapun yang berbau rumah. Apa kalian pikir aku bosan? TIDAK! Aku tidak bosan ataupun merasa terkekang oleh aturan orang tuaku. Aku bisa tau semua yang terjadi di luaran sana dari satu aktivitas saja : menjemur pakaian.

            Pagi ini seperti biasa, aku bangun jam 03.00 WIB. Setelah melakukan sholat malam seperti biasa pula aku mulai rutinitasku, mencuci baju. Usiaku sudah mencapai 16 tahun, maka aku tergolong usia matang untuk mencuci semua pakaian orang satu rumah : ayah, ibu, kakak laki-laki, dan dua orang adik laki-laki. Yah, aku adalah anak wanita satu-satunya di keluarga ini, jadi ini memang tugasku untuk membereskan masalah rumah tentu saja selain ibuku. Setelah mencuci selesai adzan subuh mulai terdengar. Lambat laun keheningan desa mulai pecah oleh beberapa tetanggaku yang terbangun atau mencoba membangunkan kawan yang lain untuk melaksanakan sholat subuh. Suara-suara mesin dipanaskan mulai terdengar, nyaring, dan cenderung berisik mengalahkan suara adzan, di jalan sebelah desa kami pun mulai terdengar suara mesin-mesin mobil yang mulai dijalankan pemiliknya. Begitulah keadaan desa pinggir kota kami, sudah hidup sejak matahari belum bangun dari peredarannya.

            Di rumahku sendiri tak kalah berisiknya, terutama ayahku, dia adalah seorang laki-laki yang taat dalam agama, sejak sholat malam tadi dia memang tidak tertidur lagi, dia berdzikir, berdoa, dan membiarkan aku mengerjakan tugas-tugas rumah tanggaku. Di hari yang masih gelap ini ayah sudah mengeluarkan suaranya untuk membangunkan ibu, kakak, dan kedua adikku, “semua bangun, kita sholat jamaah di masjid” kata ayahku. Tak ada yang membantah kata-katanya, mereka langsung terbangun dan bergegas menuju kamar mandi, berwudhu, aku hanya tersenyum saja melihat adegan ini. Pagi ini, sama seperti pagi lain lantunan suara imam mampu membuat kami terperanjat dan beristigfar seraya bersyukur penuh khitmat akan semua yang telah kami alami.

            Seusai sholat berjamaah, kami semua memulai aktivitas masing-masing. Ayah mulai siap-siap pergi ke kantor, ibu mulai membuat sarapan, kakak bergurumul dengan tugas-tugas kantornya, adik-adikku masih sibuk karena PR-nya belum selesai, aku? Aku hanya tinggal menjemur pakaian saja, karena aku sudah bersiap sebelum subuh tadi. Aku suka menjemur pakaian, karena dari aktivitas ini aku bisa mengetahui berita yang menarik, bahkan memang lebih menarik, daripada infotaiment-infotaiment di TV sana.

            Tempat menjemur pakaian kami merupakan tempat yang ramai posisi ketiga setelah warung kopi dan masjid. Hal ini dikarenakan tempat jemuran semua penghuni desa berada di satu tempat yang sama yaitu di sebelah lapang kosong yang biasa di pakai anak-anak desa kami bermain bola. Entah mengapa tempat ini di pilih sebagai tempat untuk menjemur, semua penghuni desa, yang jumlahnya memang hanya 27 kepala keluarga, menjemur di tempat ini. Tempat ini menjadi tempat silahturahmi para ibu-ibu atau bahasa lainnya adalah tempat bertukarnya informasi yang satu dengan yang lain. Dalam perjalanan menuju ke tempat jemuran aku terus menerka-nerka apa yang akan aku dengar hari ini? Apakah aku kan mengetahui cerita ibu Ani dan ibu Ina yang katanya bertengkar kemarin?gara-gara apa ya? Dan semua pertanyaan itu hilang setelah aku melihat tempat menjemur sudah semakin dekat dan hamper penuh terisi.

“Eh, tau ga bu? kemarin saya lihat si Ani jambak-jambak rambutnya Ina ampe keluar rumah, suruh dia jual barang-barangnya untuk bayar utang. Ih ngeri ya bu, masa ke tatangga ko gitu…” kata ibu Ngatmi yang memang sumber info dari semua keadaan desa. “oh gitu bu,,iih jahat ya” jawab ibu lain disertai anggukan ibu-ibu yang lainnya. Aku hanya mendengar dan tersenyum “benarkan?” batinku, sambil terus menjemur pakaian. Setelah posisiku agak jauh dari ibu Ngatmi aku mendengar pembicaraan gerombolan yang lain “iya, ini gelang yang baru dibelikan suamiku. Katanya dia naik jabatan.” Yang langsung dijawab oleh ibu lain “ah, masa sih naik jabatan langsung bisa beli gelang? Kayanya dia korupsi tuh.” Dan langsunglah terjadi percekcokan antara ibu yang satu dengan yang lain gara-gara ibu bergelang tadi tidak terima.

           Baju yang harus di jemur hari ini agak banyak, kedua adikku kemarin main hujan-hujanan yang mengakibatkan dia harus mengganti bajunya. Seusai ganti baju dan hujan sudah berhenti dia langsung bermain bola sehingga lumpur-lumpur ini menempel lagi di baju yang baru saja di ganti. Akhirnya mereka harus mengganti beberapa kali. Aku pun pergi ke tempat menjemur paling pinggir, masih pagi, jam menunjukkan angka 05.38, pagi ini matahari masih sedikit bersembunyi di balik indahnya awan yang mulai kebiruan. Di pinggiran ini, dengan cuaca yang sama seperti ini aku jadi teringat kasus satu tahun yang lalu saat aku melihat ada seorang anak muda yang berlari diikuti oleh dua orang yang berbadan tegap besar namun berpakaian preman. Mungkin karena pemuda itu tidak berhenti, akhirnya salah seorang dari orang berbadan tegap itu mengeluarkan suatu benda entah apa dan terdengarlah bunyi “DOORRR!” sontak saat itu semua penghuni desa langsung bergerumul mengelilingi pemuda kurus yang kakinya kesakitan. Aku tidak berani melihat, suara dentuman keras diiringi dengan teriak seseorang membuat aku ketakutan. Kejadian ini yang membuat aku takut menjemur beberapa hari kedepannya. Sekarang aku hanya tersenyum saja mengingat kejadian itu.

“kamu tau film “?” yang sutradaranya itu tuh suaminya Saskia Meka?” Tanya seorang wanita yang umurnya tidak jauh dari ku

“mmm, tidak” jawabku

“ah kamu mah ga gaul, jadi ya katanya film itu the film sesat……” penjelasan yang panjang langsung dia jabarkan. Aku tersenyum saja mendengarkan sambil terus menjemur, informasi baru yang menarik batinku.

            Di balik selimut panjang yang dijemur itu terdengar suara ibu lain yang berbicara “eh, tau ga Tomi Kurniawan the udah nikah tau itu sama si Tania anak orang Arab, nikahnya the sembunyi-sembunyi….”. Ah asiknya menjemur. Tanpa menonton gossip pun aku tau semua informasi selebriti. Bukan hanya selebriti, bahkan keadaan orang kampong pun aku tau. Hidup penuh hirik-pikuk. Aku tertawa kecil, dan tawaku ini pecah ketika tiba-tiba suaranya terhenti ketika ada seorang ibu yang berteriak “heiiiii, kadieu sia maneh, balik isuk, poho ka anak istri nya maneh, boga simpenan kan? Ngaku maneh! Aing…” terus saja ibu tersebut berbicara pada suaminya yang berlari meninggalkan rumah lagi. Wah besok pasti ada cerita menarik batinku sambil pamit pulang karena jemuranku sudah habis. Aku suka menjemur, sangat suka.

Nadia Juli Indrani

*di inspirasi saat menjemur pakaian..

~ by nadzzsukakamu on May 13, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: