Pesan yang Tak Tersampaikan

Andai ini Jakarta, mungkin sekarang aku akan duduk di kursi penumpang bus  way yang empuk dan ber-AC. Jika aku harus berdiri karena jenis bus itu banyak peminatnya, setidaknya tidak ada pengamen-pengamen yang menggangguku. Sayangnya ini Bandung, penerapan sistem busway sulit dilakukan di kota ini sehingga hanya bus-bus seperti ini lah yang ada di kotaku, Bus Damri. Di bus inilah aku duduk sekarang. Bus dengan tempat duduk sempit dan keras yang bahkan lututku pun harus ku tekuk sedikit agar aku bisa duduk. Aku memilih duduk di dekat jendela tempat paling nyaman untuk melihat keluar, kearah mana saja. Tidak harus pemandangan, karena di Bandung memang sudah tidak ada pemandangan. Melihat bangunan-bangunan yang silih berganti dan hiruk pikuk orang di luar pun sudah cukup untuk membuatku melakukan satu hal penting, berpikir.

Baru saja perjalanan dengan bus Damri ini di mulai, dua orang pemuda masuk dengan membawa alat musik di tangan mereka. Seorang memegang drum ala kadarnya dan seorang lagi memegang sebuah gitar usang dengan senar plastik. Pemuda yang ku taksir berumur 18-20 tahunan langsung memainkan alat musiknya dengan lagu yang sudah familiar di telingaku, Ingat Mati – Wali Band. “Aahh, kenapa harus lagu ini?” batinku. Suara pemuda itupun melantun dengan sedikit fals, mengajak pikiranku ikut melayang mengingat proses kehidupan diriku sendiri sejak aku bayi hingga saat ini, saat dimana aku duduk di bus Damri.

Kata orang, ibuku baru menikah dengan ayah saat aku sudah dikandung selama delapan bulan. Aku terpukul mendengarnya, namun aku tidak berani menanyakan hal ini kepada kedua orang tuaku. Setelah aku menyelidiki surat nikah kedua orang tuaku dan bulan saat aku lahir, fakta itu terkuak. Aku memang sudah di kandung saat orang tuaku belum menikah. “Apa aku anak haram?” batinku mulai bertanya tanpa memikirkan jawabannya.

Pikiranku kembali pada saat aku sudah mengerti ekspresi senang, tersenyum, cemberut, dan marah. Rasa-rasanya saat itu ekspresi marah seringkali dikeluarkan oleh ayah dan ibuku. Aku lupa saat itu ekspresi apa yang aku keluarkan, mungkin menangis, mungkin juga hanya diam tidak mengerti. Ah, hanya itu ekspresi yang mungkin aku keluarkan, menangis atau terbengong-bengong sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin dahulu orangtuaku tidak memikirkan dampak yang akan menimpa seorang anak yang selalu diperlihatkan ekspresi marah.

Tiba-tiba seorang pemuda menyodorkan aku sebuah bungkus bekas permen, meminta bungkusan itu diisi barang seratus-dua ratus. Tanpa mempedulikannya aku langsung mengangkat sebelah tanganku, tanda aku tidak akan memberinya apa-apa. Pemuda itu pun langsung pergi dengan muka yang masam dan menyebalkan.

Masam dan menyebalkan, mungkin itulah ekspresiku tadi sebelum pergi dari rumah. Melangkahkan kaki tanpa arah, berjalan di bawah matahari sore yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Awan-awan sudah bergumul membentuk warna hitam, tampaknya sebentar lagi hujan. Aku terus berjalan. Aku harus berpikir. Aku menanti hujan. Di bawah hujan biasanya sel-sel otakku lebih hidup. Setiap tetes hujan akan membawa makna hidup dari bisikan-bisikan makhluk tak terdengar. Di bawah hujan biasanya aku akan menemukan jawaban akan hidup yang selalu dihinggapi masalah. Tetapi hari tak kunjung hujan, meski langit telah gelap, sang matahari sore tetap tak mau kalah untuk menghilangkan sinarnya. Terperosoklah aku disini, di dalam bus Damri. Aku harap dengan menghabiskan uang dua ribu rupiah saja aku bisa memikirkan tentang ini, tentang hidup. Hanya dengan dua ribu.

Suasana bus Damri ini tidak terlalu penuh, semua orang dapat duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Banyak penumpang ibu-ibu di dalam bus Damri ini. Dapatkah kalian bayangkan apa yang akan terjadi jika di suatu tempat terlalu banyak kaum wanita? Ya, berisik. Banyak suara di dalam bus Damri ini, tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Satu hal yang pasti, mereka membuka-buka mulutnya mengeluarkan suara. Saling menjawab dari satu ibu ke ibu lain. Ada pula yang satunya hanya mengangguk dan yang lain terus membuka mulutnya tanpa jeda. Hebat sekali ibu itu. Kecepatan kata yang dia keluarkan pasti lebih cepat dibandingkan kecepatan bus ini. Baru saja aku asik memperhatikan polah ibu-ibu ini, masuklah seseorang dengan gitar di tangannya. Pengamen yang lain. Usianya lebih tua di banding pengamen yang tadi. “Ya para penumpang sekalian, izinkan saya menembangkan sebuah lagu popular dari penyanyi favorit kita Iwan Fals dengan judul Denting Piano.” kata pengamen tadi. Suara pengamen ini lebih enak. Rasanya, kalau dia ikut kontes menyanyi setidaknya dia akan masuk hingga babak 50 besar. Suara lembut yang memang sedikit mirip dengan Iwan Fals ini membuatku memikirkan tentang hidupku lagi, hidup yang bagi diriku sendiri sudah tidak tahu akan dibawa kemana.

Masa puberku berjalan dengan normal seperti remaja pada umumnya, berjerawat, suka pada ketua OSIS (ini hal yang normal kan?), melakukan perubahan ini dan itu agar menarik perhatian orang yang disukai, tidak mengerjakan tugas, dan main setiap hari. Asik sekali masa puberku itu. Nakal tetapi berprestasi. Satu kelebihanku, meski aku tidak pernah belajar, tidak tahu mengapa nilaiku bagus-bagus, selalu masuk tiga besar di kelas. Ini menyelamatkan aku. Senakal apapun di sekolah, guru-guru tidak pernah menghukumku. Aku pun tertawa kecil mengingat masa-masa SMP-ku dulu, sungguh gadis bandel yang manja. Akhirnya akupun mengingat-ingat masa SMA yang menurutku sangat membahagiakan. Sudah merasa lebih dewasa, sudah tahu bagaimana mendekati seorang laki-laki, lebih terkendali, tetapi masih tidak pernah belajar. Aku tidak masuk SMA favorit, hanya SMA biasa namun memiliki sejuta kisah. Di dalam bus Damri ini aku kembali tersenyum-senyum sendiri mengingat itu semua, bagaimana populernya geng kami, main setiap hari, ngeceng sana ngeceng sini, dekat dengan orang-orang popular, dekat dengan guru, masuk kelompok ilmiah. Hanya senang-senang  saja masa SMA ku dahulu. Sangat mengasikkan dan tak terlupakan.

Kembali dari lamunanku, akupun tersadar bahwa pengamen tadi sudah tidak ada. Mungkin tadi dia menyodorkan bungkusan plastik lagi tetapi aku tidak sadar, terlalu asik dengan lamunanku. Aku tidak ingin melanjutkan lamunan ini, terlalu takut. Aku belum dewasa, setidaknya untuk berbicara soal cinta. Aku hanya menatap layar handphone Samsung Wave 533 dalam-dalam. Menatap pesan yang dari tadi tak kunjung selesai aku ketik. Baru ada sebuah kata disana ‘Assalamu’alaykum wr wb’. Pesan selanjutnya masih aku pikirkan, itulah sebabnya aku ada di bus ini untuk memikirkan ini. Memikirkan isi pesan yang akan ku kirimkan padanya, pada dia yang selalu ada di hatiku sejak aku merasa aku mengenal cinta.

Dia, namanya Achmad Fashiha. Sudah dua tahun aku mengenalnya (atau lebih tepat mengaguminya). Teringat ku saat pertama melihatnya dalam sebuah acara, dimana dia menjadi pembicaranya. Saat mendengarkan suara lembutnya, melihat keteduhan di wajahnya, tanpa sadar aku meracuni otakku sendiri, dia adalah seorang imam yang dapat membimbingku ke surga kelak. Dia bagaikan sosok yang sempurna: baik, sholeh, pintar, menawan, menarik hati, menyenangkan, ah segala-galanya. Mungkin bahkan posisi dia di depan Rabbnya pun sudah ada dalam posisi yang terjamin. Sudah dua tahun pula, pikiran-pikiran ini meracuni hati dan otakku, bahkan pikiran ini seakan mendarah daging dalam diriku. Setelah awal 2009, hidupku seakan terhenti. Berulang kali aku mencoba melangkah, berlari, berpaling, namun poros diriku tetap saja dirinya. Entah mengapa, dimataku dirinya sangat menawan, sangat mempesona, dan sangat jarang. Dua tahun ini berulang kali aku mencoba melupakannya, namun seakan tidak mau kalah, ingatan tentang dirinya berhasil menyamakan kedudukan.

Lamunanku kembali pada masa itu, masa dimana aku tidak dapat mengontrol diriku.  Pernah suatu waktu aku merasa sangat merindukannya, ingin melihatnya walau hanya sekejap, namun aku tahu itu pekerjaan yang sia-sia. Akhirnya aku berusaha melupakannya dengan menonton film favoritku, film-film Korea. Hasilnya? Aku jadi merasa tokoh wanitanya itu adalah aku dan tokoh prianya adalah dia, SINTING! Ada satu lagu yang sangat aku sukai karena memiliki makna yang sangat dalam dan ingin sekali aku kirimkan padanya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan itu, namun berkat dorongan dua temanku aku mengirimkannya. Ini sangat diluar batas orang normal yang menyukai seorang laki-laki. Jelas sekali dalam lagu ini (tidak dapat dipungkiri) merupakan suatu pernyataan hati yang mendalam yang belum pernah aku lakukan. Aku menghela napas panjang. Menyukainya saja membuat aku sakit jiwa dan ingin amnesia.

Aku dan dia. Aku mengenalnya, mengetahui kesibukannya, mengetahui kebaikannya, mengetahui kisahnya sehari-hari, intinya dia itu penting bagiku. Selalu ada dalam otakku, ada dalam hatiku, ada dalam detak jantungku, ada dalam bayanganku namun aku baginya adalah kebalikan dari semua itu. Ini adalah fakta yang sangat menyakitkan yang tidak dapat aku ubah. Tidak dengan pendekatan-pendekatan biasa yang dapat dilakukan seorang wanita jika ia sedang jatuh hati pada seorang pria. Karena apa? karena dia memang berbeda. Aku sering kali berkata aku tidak suka padanya, pura-pura tidak tertarik jika temanku membicarakannya, dan cenderung mendukung temanku yang tidak suka padanya. Tetapi semua usaha itu bohong, sia-sia, setiap melihat tulisan namanya, nama organisasinya, jaket himpunannya, melihat seseorang mengenakan jas almamater, mengenakan kacamata, mengenakan pakaian coklat pikiranku akan langsung tertuju padanya. Sulit, jantungku sudah berdegup dan tidak terkendali dengan semua itu. Apalagi jika orang itu benar-benar dia, ingin rasanya aku langsung berlari pergi menghindar karena oksigen di Bumi ini serasa habis entah kemana.

Batu krypton (dalam kisah Superman) mampu melumpuhkan seorang superhero menjadi seorang yang sangat lemah, tak berdaya, dan kehilangan kekuatan saat batu itu ada didekatnya. Itulah dirinya, si batu krypton. Meskipun batu itu disingkirkan namun bekasnya tak mampu dihilangkan dengan menggunakan apapun. Batu krypton akan tetap ada dan fungsinya tidak pernah berubah dan takkan tergantikan. Tetap menyakiti Superman. Maka jika dia adalah batu krypton maka aku tetap rela menjadi Superman meski berada dalam kesengsaraan saat berada didekatnya.

Aku ingat tentang kesukaannya: Coklat, dia sangat suka coklat. Pernah aku melihat dia, serba coklat. Aku kira dia hanya menyukai warna coklat, namun ternyata dia menyukai semua coklat, baik makanan maupun warna. Dan dia semakin tampan dengan semua coklatnya.

Dia pernah sangat melambungkan hatiku. Saat bulan puasa tahun itu aku sedang rapat di daerah sekitar masjid dekat kampusku. Tiba-tiba dia datang dengan senyumnya, tapi senyum itu bukan untukku. Senyum itu untuk orang-orang yang dia kenal, namun senyum itu tetap saja membuat aku merasa telah berpuasa tujuh hari tujuh malam, lemas! Bersikap biasa dan mencoba tetap fokus pada pemimpin rapat. Tiba-tiba sesuatu menyentuh kakiku, coklat. Aku melihat ke arahnya, kemudian dia berkata, “untuk ta’jil, bagikan ke akhwat lain“. Saat itu, saat seperti itu, entah apa yang membuat aku senang dan terbang melayang, apakah waktu berbuka yang sebentar lagi tiba, coklat karena aku sangat suka coklat, karena dia yang memberi, atau karena itu pertama kalinya dia berbicara untukku? SEMUANYA.  Akupun masih berdegup sampai sekarang jika ingat adegan itu.

Suasana kota Bandung saat ini macet. Wajar saja bus Damri jurusan Dago-Leuwi Panjang ini melewati daerah 7 titik kota Bandung, mulai dari Taman Pemerintahan Daerah, stasiun Bandung, dan saat ini bus Damri ini sedang melewati Pasar Baru Bandung. Banyak ibu-ibu yang mulai turun, hendak berbelanja mungkin? Aku masih menatap keluar jendela. Langit masih mendung namun hujan belum juga turun. Menunggu hujan yang sangat lama, lamanya seperti aku dan dia dahulu. Ingatanku kembali lagi padanya.

Lama, sangat lama tanpa interaksi dengannya (memang tidak pernah). Jangankan berinteraksi, melihatnya di sekitar kampusku pun tidak. Kemana dia? Dimana dia? Apa yang dilakukannya? Ada apa dengannya? Mengapa dia tidak mengisi acara-acara kampus lagi? Aku benar-benar rindu dengan wajahnya yang teduh, kata-kata yang teruntai indah yang keluar dari mulutnya dan rasa sejuk bila ada didekatnya. Aku hanya ingin melihatnya, itu saja. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan, mengingat aku dan dia berada dalam satu kampus yang sama? Ah, dia bagaikan bulan. Indah namun seringkali bersembunyi di balik awan dan hanya dapat dilihat di malam hari.

Pernah akhirnya satu kali aku bertemu dengannya. Setelah pelajaran Termodinamika Tingkat Lanjut selesai, ada sesuatu yang menarikku untuk kearah gerbang depan, segera. Saat akan menyebrangi jalan, yang setengahnya aku lakukan dengan biasa namun yang setengahnya lagi aku lakukan dengan penuh perjuangan, tiba-tiba dia muncul, muncul begitu saja dari arah yang berlawanan tanpa aku tahu dari mana dia datang. Dengan rambut yang belah pinggir dan masih agak basah (atau basah karena minyak, aku tidak tahu) dan kemeja biru, terdengar suara tawanya yang sangat khas (karena dia sedang berbincang dengan temannya). Senyumnya saat itu mampu menghentikan langkahku di tengah jalan dan kami saling bertatapan. Satu detik… dua detik… tiga detik… TIIIDDDDIIIIITTTTT!! Suara klakson mobil berhasil membuyarkan itu semua, dan aku berjalan kearah tepi jalan. Begitupun dia, terus berjalan menyebrang hingga kami berpapasan diantaranya dan terdiam, serasa semua sepi dan slow motion.

Saat aku tersadar, sudah ada dua gadis kecil memegang gitar kecil. Suara nyanyiannya sangat indah, lagu Dewa 19 Risalah Hati berhasil menusuk hatiku saat itu.

“Aku bisa membuatmu…

jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku..

Beri sedikit waktu..

Agar cinta datang karena telah terbiasa..”

‘Cinta datang karena telah terbiasa’, mulai dari interaksi yang menyenangkan hingga obrolan yang bisa melambungkan jiwa. Hal-hal sederhana yang tanpa sadar dilakukan oleh lelaki, bisa membuat wanita-wanita jatuh hati. Tapi curangnya, untuk membuat laki-laki jatuh hati para wanita harus melakukan hal diluar normal, bukan hal-hal sederhana. Interaksi, sejak kejadian itu banyak interaksi dan pertemuan yang terjadi. Semua itu benar-benar membuatku melambung dan ingin selalu tersenyum. Akupun memutuskan memberikan receh lima ratus rupiahku pada kedua gadis ini. Suaranya bagus dan mereka memilih lagu yang tepat.

Sedikit lagi sebenarnya, sedikit lagi dia akan mengenalku. Sedikit lagi kita akhirnya dapat berkenalan. ‘Mulutmu Harimaumu’, mungkin itu kata-kata yang tepat. Hati-hatilah menggunakan mulut karena itu terjadi padaku (sayangnya jika hanya diucapkan mungkin yang mendengar akan lupa tetapi ini dalam bentuk tulisan). Saat itu bermain dengan kata-kata merupakan hal yang mengasikkan, apalagi dilakukan dengan orang-orang yang memang senang melakukan itu. Saat hujan malam itu, tiba-tiba temanku mengirim sebuah pesan pendek “Shil, buka blog gue sekarang, Achmad komen di tulisan gue yang Presiden”. Kalau Achmad memberi komentar lantas apa salahnya? Setelah otakku bisa mencerna maksud dari temanku, aku pun tersadar bahwa di tulisan itu, komentar-komentar yang dituliskan oleh teman-temanku semuanya berisikan tentang perasaanku pada Achmad. Padahal sejauh ini Achmad tidak mengetahui siapa aku, siapa orang yang mengiriminya lagu Korea itu, dan siapa orang yang selalu mengaguminya sampai mengirimkan surat-surat pendek tentang perasaannya. Aku pun membuka blog, bingung, pusing, dan hampa. Ah, tak tahulah apa rasanya, sangat campur aduk, sulit menggambarkan itu karena sel-sel dalam tubuhku serasa tidak dapat menghasilkan ATP lagi. Aku membaca sebuah kometar di tulisan itu “Ini tentang saya?” aku bingung harus membalas apa di tulisan itu. Ini memang tentangnya, ini memang tentang aku. Aku tidak ingin dia tahu perasaanku, walau pada kenyataannya dia sudah mengetahui.

Aku dan teman-teman blog sepakat untuk tidak membalas komentar darinya. Ini adalah hal yang aku sangat sesali sekarang. Saat itu keputusan diambil sebagai permintamaafan teman-teman karena mereka telah membahas hal yang seharusnya tidak dibahas di situs sosial. Aku sempat jatuh sakit saat itu, benar-benar terpukul karena dia telah mengetahui identitasku. Sudah tujuh purnama terlewat sejak kejadian itu, meski aku dan dia sering bertemu namun entah mengapa perasaan yang timbul bukan lagi perasaan suka hanya perasaan malu yang tersisa. Aku selalu tertunduk jika bertemu dengannya, atau bahkan aku pura-pura tidak melihatnya. Menyakitkan memang, namun aku sangat merasa tidak pantas untuknya yang begitu sempurna. Sejak saat itu pula aku dan teman-teman tidak berhubungan lewat jejaring sosial. Blog temanku mendadak sepi pengunjung karena memang kami tidak “ribut” di blog lagi. Sepinya blog temanku seiring dengan sepinya hatiku. Sejak saat itu aku merasa tidak mampu menyukai seseorang lagi.

Aku masih melihat layar handphoneku lekat-lekat. Pesan yang coba ku ketik sejak tadi masuk bus ini tidak kunjung selesai. Aku menghela nafasku berkali-kali, berat. Hanya itu yang aku rasakan. Teringat di saat-saat dulu itu aku masih mengunjungi blog temanku sesekali. Melihat apakah ada komentar baru, dari siapa saja tidak harus dari dia. Namun hasilnya nihil. Blog itu memang telah menjadi kuburan di dunia maya, sepi. Selama tujuh purnama pula aku diam-diam masih merindukannya. Terus memperhatikan apa yang dia lakukan, masih mengetahui apa-apa yang dia lakukan. Pernah satu ketika saat dia berulang tahun aku ingin sekali mengucapkan sesuatu padanya. Tetapi tidak bisa, aku sudah berpura-pura tegar dan melupakannya. Gosip tentang dia bersama wanita lain yang aku dengar tetap menyakiti hatiku. Aku menjadi seperti orang yang kehilangan kompas saat tersesat di hutan. Aku kehilangan arah dan tidak lagi bersemangat. Seperti malam tanpa rembulan, ada yang kurang disana. Aku hanya merasa aku tidak dapat menyukainya lagi. Tetapi ternyata hatiku berkata lain.

Bus Damri saat ini sudah sampai di taman Tegalega, sebentar lagi aku harus turun dari bus ini, setelah turun aku bingung harus kemana. Aku masih merasakan pilu yang tak tertahankan di ujung tenggorokanku. Surat bersampul ungu masih ada di sebelah tanganku. Sudah aku baca berkali-kali dan berkali-kali pula aku merasakan kesedihan yang sama, sakit rasanya. Ini surat darinya, dari Achmad Fashiha yang diberikan temannya kemarin malam untukku. Kemarin malam hujan turun tidak terlalu deras, tiba-tiba seorang laki-laki mengetuk pintu rumahku. Aku sering melihat orang ini berjalan bersamanya, tetapi aku tidak mengetahui siapa namanya.

“Assalamu’alaykum, Shilla?” katanya dengan wajah yang tidak terlalu ramah.

“Wa’alaykumsalam, iya. Ada apa ya mas?” jawabku.

“Perkenalkan saya Dito, saya mau menyampaikan surat dari Achmad.” Katanya sambil menyodorkan amplop ungu.

“Ya?” jawabku lagi.

“Baca saja… Assalamu’alaykum” katanya sambil pergi.

“Yang haus.. Yang haus..” Teriak seorang penjual minuman dalam bus di lampu merah Taman Tegalega. Hanya tinggal tiga belokan lagi bus ini akan sampai terminal. Aku harus memutuskan sesuatu. Meski terlambat, tapi aku rasa harus ada jawaban dari suratnya. Akhirnya aku mulai mengetik beberapa kata tambahan “Assalamu’alaykum wr wb. Kang Achmad, sya Shilla..” aku pun terhenti lagi, berpikir sejenak dan membulatkan tekat, sungguh ini menyakitkan “tlsan d blog tmn sya mmng ttg akang, maaf y kang. Sya jg yg ngrm akang email lgu itu, sya mmng mnyukai akang dari dulu. Although I’ve suffered with you but I’m happy thinking of it. I know my love has made you suffer. Maaf kang, tidak merespon dri dlu, sejak saat itu Sya tdk prnh bsa melupakan akang. Sya mencintai akang” Aku tidak kuat dengan ini semua, akhirnya air mata ini jatuh juga. Dengan tangan bergetar akupun menekan tombol SAVE di handphoneku. Karena sampai kapanpun aku tahu, pesan ini tidak akan pernah tersampaikan.

***

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Shilla,

Apakah aku sedang mendengarnya?

Degup jantungmu yang lembut saat engkau membacanya?

Tentu saja,Shilla, degup jantungmu selalu terdengar merdu.

 

Apakah Shilla suka cokelat? Rasa aku bisa mendengar jawabannya Ramadhan tahun lalu. Baru sekali aku mendapati binar mata itu. Dulu aku mendapati binar mata yang berisi kebun cokelat. Binar matamukah itu, Shilla? Sejak itu aku takut. Aku takut berebut cokelat dengan Shilla🙂

 

Apakah Shilla suka lagu Korea? Mestinya aku bisa dengan mudah menebaknya, Shilla. Seandainya dulu Shilla tidak usil mengirimkan email-email kecil, tentu sampai kini tidak ada yang berwarna-warni di tepi schedule board yang ada di dinding kamarku. Bisakah Shilla melihatnya? Ada warna-warni kertas yang aku hias, dengan nama Shilla di sudut-sudutnya? Terima kasih, Shilla, telah menghadirkan warna-warni yang menenangkan hati.

 

Sebelum ini, selama 7 purnama lamanya, setiap hari tak pernah luput aku selalu mencoba mengetahuimu lewat blog Isan, siapa tahu saja kau membalas di page itu, tetapi haris terus berganti hingga saat ini. Balasan itu tak kunjung datang. Ada apa dengan dirimu Shil?


Shilla, aku tak ingin berbagi sepi.

Seandainya bisa, aku tentu akan berlari.

Sekedar membawa sebatang cokelat untuk dibagi.

Shilla, katanya, Tuhan lebih dekat daripada urat leher.

Aku senang sekali karena perjalanan ini akan berakhir di sana.

Mungkin kanker hati ini memang akan berakhir.

Agar aku bisa segera berlari lebih dekat kepada-Nya.

Dan bercerita kepada-Nya.

Tentang semangat yang dititipkan-Nya pada Shilla.

Bolehkah aku meminjam doa?

Untuk kembali menghadap-Nya,

dan tersenyum mengatakan,

aku menyayangimu, Shilla.

 

Shilla,

Apakah aku sedang mendengarnya?

Degup jantungmu yang lembut saat engkau membacanya?

Tentu saja,Shilla,degup jantungmu selalu terdengar merdu.

***

Terima kasih atas pinjaman semangat,

Lewat binar mata kebun cokelat, senyum, dan salam hangat.

Achmad Fashiha


-Nadia Juli Indrani-

UAS APRESIASI SASTRA

~ by nadzzsukakamu on May 20, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: