Rindu….

Pagi ini sepertinya aktivitas Fania cuma satu, merenung, entah apa yang dipikirkan yang dia tau dengan melakukan ini hati nya jadi tenang. Fania hanya melihat kearah luar melalui jendelanya,sekenanya hanya ingin melihat keluar saja tidak lebih. Dia tidak peduli dengan banyaknya orang di luar sana, tidak peduli dengan hiruk pikuk pagi. Dia hanya peduli bahwa semua yang dia rasakan sejak semalam harus lah hilang hari ini juga. Dia letih dengan perasaan yang sudah dirasakannya semalaman. Yah, entah mengapa dia rundu akan ayahnya. Dan rasa rindu ini sungguh sangat membuatnya sedih, bukan karena ayahnya sudah tidak ada di dunia ini lagi bukan ayahnya masih Ada bahkan mungkin keadaannya sangat sehat -atau sakit?- itulah yang tidak dia ketahui. Ayah Fania masih hidup namun Fania sulit untuk menemuinya.bukan, tetapi memang Fania enggan menemui ayahnya.

Ayah Fania, bukan seorang pengusaha kaya raya, hanya seorang laki-laki biasa yang harus menerima takdir nya sebagai duda di usia 31 tahun. Yah, benar sekali orang tua Fania sudah bercerai saat Fania berusia 4 tahun.Dan sepertinya perceraian orang tua nya membuat Fania menjadi sedikit fobia dengan keributan dan keramaian. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena dahulu orang tua Fania sering bertengkar hingga seluruh tetangganya berkerumun. Anak seusia Fania yang bahkan masih belum bisa membedakan kanan dan kiri dipaksa melihat adegan teriakan makian dari kedua orang tuanya sudah pasti hal ini menjadi suatu adegan traumatik yang menimbulkan efek fobia.

Tetapi entah mengapa saat ini dia sangat rindu dengan ayahnya. sudah semalaman dia tidak bisa tidur menahan rindu mungkin rasa rindunya melebihi rasa rindu dua insan yang lagi jatuh cinta, sangat rindu Dan sangat menyiksa.Fania pun mulai mengingat-ingat kejadian apa saja yang telah dia lewati dulu bersama ayahnya.satu persatu memorinya dia panggil kembali.mungkin belajar memakai sepatu? ah bukan Fania belajar memakai sepatu dari kakaknya, mmm memegang sendok?bukan juga, membeli mainan bersama? Atau bermain bersama? Tidak pernah, mungkin belajar menulis atau membaca?rasanya tidak, mengaji? Berjalan-jalan? Ah tidak, yang dia ingat pertama kali jalan-jalan, itupun ke kebun binatang, saat usianya 10 tahun. Fania terus menggali ingatannya dalam-dalam, mencari aktivitas apa yang biasa dilakukan anak usia 0-4 tahun dengan ayahnya. Tetapi semakin dia gali semakin sedih, semakin dia mengumpulkan semua memori nya dia semakin sadar bahwa dia tidak memiliki satu memori pun dengan ayahnya. Yang Fania ingat memang hanya adegan pertengkaran itu. Adegan penuh teriakan antara ayah Dan ibunya.bukan adegan kasih sayang antara ayah dengan anak.

Tanpa tersadar air mata nya menetes. Dia sangat rindu ayahnya tetapi dia juga enggan untuk menghubungi ayahnya. Mungkin jika takdir memang akan mempertemukan dia dengan ayahnya dia akan mengajak ayahnya untuk mengukir kenangan indah bersama ayahnya. Agar setiap dia merindukan ayahnya dia tidak sedih lagi tetapi dia akan tersenyum oleh kenangan-kenangan itu. Fania pun bergegas menutup jendelanya.dia rindu tetapi dia sedih karena rindunya.

*fiksi
**tetapi merindukan seseorang itu menyebalkan!

~ by nadzzsukakamu on July 14, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: